Minggu, 09 September 2012

From Zero To Be MoneYMan




Sama-sama
terbuat dari kertas,
sama-sama dicetak dan
diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia.
Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah
dari Bank dan beredar di masyarakat.
Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi
secara tidak sengaja di dalam
dompet seorang pemuda.
Kemudian diantara kedua uang
tersebut terjadilah percakapan,

Rp.100.000 bertanya kepada
yang Rp.1000 "kenapa badan kamu begitu lusuk,
kotor dan bau amis?"

Dijawablah olehnya "karena aku begitu keluar
dari Bank langsung ditangan orang-orang
bawahan, dari tukang becak,
tukang sayur,
penjual ikan dan di tangan
pengemis"

Lalu Rp.1000 bertanya balik pd
Rp.100.000
"kenapa kamu kelihatan begitu
baru, rapi dan masih bersih?"

Dijawabnya "karena begitu aku
keluar dari
Bank, langsung disambut perempuan cantik
dan beredarnyapun di restauran
mahal, di mall
dan jg hotel-hotel berbintang
serta keberadaanku selalu dijaga dan
jarang keluar dari dompet"

Lalu Rp.1000 bertanya lagi
"pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?"

Dijawablah oleh Rp.100.000
"belum pernah "

Rp.1000. pun berkata lagi
"ketahuilah,,walaupun keadaanku seperti ini
adanya, setiap jum'at aku selalu mampir di
Masjid-Masjid,
Minggu Gereja-Gereja, Wihara, Klenteng, Pure
dan ditangan anak-anak yatim,
bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan
karena aku tidak dipandang manusia bukan
karena nilai tapi yang dipandang adalah
sebuah manfaat."

Akhirnya menangislah uang
Rp.100.000 karena
merasa besar, hebat, tinggi tapi
tidak begitu bermanfaat selama ini.

##
Jadi bukan seberapa besar
penghasilan Anda,
tapi seberapa bermanfaat penghasilan Anda itu.
Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang
yang selalu mensyukuri nikmat
dan memberi manfaat untuk semesta alam serta
dijauhkan dari sifat sombong



Adapted from: Kotak Hitam Dunia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar